PUISI: NOTA DARI PEMUDA ITU

By Jovie J - 4/09/2020

Mari sini,
Duduk disampingku,
Kita cerita...
Cuma kau dan aku.

Kamu nampak langit indah di sana?
Itu perasaanku saat ini...
Ketika aku ditimbun dengan batu-batuan makian;
Firasatku masih belum pernah mati.

Aku tertanya-tanya,
Untuk apa aku perlu peduli;
Saat aku tidak pernah ambil peduli,
Pada orang yang tidak pantas aku benci...
Tapi dalam diam dia simpan benci padaku.

Kamu pernah rasa ditimbus asap tebal?
Aku pernah...
Saat itu mereka melihat aku tiada nilai;
Sekadar tiang lampu yang hanya menemani mereka.

Saat hujan lebat tidak berhenti menangis,
Mereka tidak mencari aku.
Kerana tiada nilai yang dicari daripadaku...
Aku dibiar sendiri.

( Mendengus )

Bergerak sendiri lebih indah.

Saat ada seorang pemuda menyapaku,
Aku kenal tapi aku tak layak,
"Mengapa sendiri bagimu itu indah?"
Aku tunduk melihat tanah.

Aku tahu dia selalu menemaniku,
Tapi aku tahu,
Dia juga tidak bisa memberiku lebih...

Ketika tengah malam itu masih menerangi fikiranku saat itu,
Aku melihat ada nota sewangi bunga mawar,

"Aku perlu kamu, kamu adalah pelangi yang sedang diproses untuk menyenangkan hatiku."

Aku bosan dengan permainan kata-kata.

Mungkin tidur cukup puas bagiku untuk mencari kebahagiaan dalam mimpi.

Lagi,
Dia ganggu aku dalam tidur...
Loceng bergantungan di langit yang terbuka luas.
Aku terbangun...
Apa kaitan loceng itu dalam soal kehidupanku?

Lebih baik aku menghargai malamku...
Dengan  hujanan puitis yang berlimpah-limpah dalam kepalaku,
Lalu ditulis menikmati perasaanku saat ini.

...

Saatku bersiap melanjutkan rutin harianku,
Hati aku jadi  semakin sukar dan rumit.
Seperti ada hal yang belum selesai...
Iaitu urusanku dengan si pemuda itu.
Aku benci menghadapi kehidupanku...


Aku menganggap dunia sekelilingku;
Hanyalah khayalan semata-mata.
Aku pijak dunia,
 Seakan cumalah halusinasi kesesakan alam.

Sakit.

Ternyata hidup itu benar.
Rohku tetap belum tenang dan bahagia.
Orang yang selama ini tidak pernah jadi peduli,
Mendekati firasat tubuhku yang sudah mati.

Ternyata aku salah.
Pemuda itu betul.
Aku ternyata orang berdosa,
Yang tidak mengenal erti pertobatan,
Yang tidak mengenal erti menghargai,
Yang tidak belajar mencintai...
Yang tidak percaya pada Dia,
Pemuda itu.

Selama ini Tuhan setia di sampingku,
Tapi aku menganggap Dia hanyalah pemuda,
 Yang ingin mencari cinta dariku..
Padahal,
 Dialah yang ingin menaburkan cinta yang aku perlu...
Selama ini.




  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih kerana sudi baca. Sila tinggalkan komen ya ^^